Monday, 24 December 2012

Kelebihan Dan Kelemahan Cucak Rowo Hasil Penangkaran

Kelebihan Cucak Rawa hasil penangkaran
1. Lebih jinak dan mudah beradaptasi, karena lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga.
2. Belum pernah tahu dan merasakan kehidupan di hutan sehingga tak ada rasa tertekan atau ingin hidup bebas.
3. Bentuk fisiknya bagus karena pemilihan induknya secara selektif.
4. Corak suara telah dapat diketahui berdasarkan induk yang menurunkan.
5. Kesehatannya terjamin karena terawat sejak telur menetas.
6. Seleksi ketat dan penangkaran yang terkontrol akan menghasilkan keturunan yang semakin hari semakin dapat ditingkatkan kualitasnya.

Kelemahan Cucak Rawa hasil penangkaran
Walaupun Cucak Rawa hasil penangkaran memiliki kelebihan, tetapi peternak perlu menguasai cara dan teknik melatih, agar burung cepat dan rajin berkicau dengan baik. Sebab, kelemahan burung hasil penangkaran adalah pada lagunya yang kadang kemasukan “suara setan” atau suara lain yang tidak kita inginkan misalnya suara ayam, perkutut dan suara hewan lainnya.

Budidaya Kakao atau Coklat Dengan Cara Okulasi dan Stek


Budidaya kakao atau coklat dengan cara okulasi dan stek sering dilakukan oleh para petani kakao untuk tujuan pengebangbiakan, setelah pada postingan sebelumnya kita membahas Budidaya kakao budidaya tanaman kakao atau budidaya coklat maka pada postingan kali ini kita membahas okulasi dan stek. Yang sering melakukan cara stek pada tanaman kakao atau coklat ini adalah di Negara Amerika Tengah dan amerika Selatan, sedangkan untuk di Indonesia banyak menggunakan cara cars okulasi.

Budidaya kakao atau coklat dengan cara okulasi dan stek memiliki langkah-langkah dan perawatan yang berbeda, namun cara okulasi lebih mudah dibandingkan dengan cara stek, hal inilah yang mendorong para petani kita banyak mengambil cara pengembangbiakan dengan okulasi.
Cara Pengembangbiakan Secara Stek

Pembiakan cara stek ini dikenal dengan dua cara. cara pertama adalah Single Leaf Cutting dan yang kedua Steam Cutting. Single leaf cutting, satu stek hanya terdiri dari ruas dan satu daun yang melekat. Sedangkan Steam Cutting berbentuk hapir satu cabang yang terdiri dari beberapa ruas dengan jumlah 3 – 7 helai daun. Sehingga kita dapat memilih salah satu cara yang demikian. Semua itu juga tergantung dari kegunaan. Kalau kita menginginkan tanaman yang cepat besar maka gunakanlah stek yang berdaun banyak.

Budidaya Kakao, Budidaya Kakao,Budidaya Kakao, Budidya kakao

1.    Pemilihan Bahan Stek

Untuk dapat dipilih sebagai bahan stek, haruslah dipilih yang memenuhi persyaratan tertentu. Pohon yang akan diambil untuk stek, sebelumnya harus jelas identitasnya. Kemudian pilih pohon yang sehat dan subur tumbuhnya dalam arti telah bebas dari segala macam penyakit maupun hama. Pengambilan dari cabang-cabang terlindungi akan lebih baik bila dibandingkan  dengan cabang-cabang yang terbuka.

Cabang yang dipilih untuk stek kita kumpulkan pada suatu lengser plastic yang berukuran 60 cm x 40 cm x 15 cm, kemudian lengser itu kita isi air setengahnya. Pangkal stek diatur sebelah bawah, hingga kena air dan daun-daunnya berada di atas. Dengan demikian bahan stek tersebut tidak akan layu waktu menunggu persiapan lebih lanjut dan transport ke sentral pengakaran.
2.    Pengakaran
-bahan yang telah dipersiapkan baik itu yang berbentuk Single Leaf Cutting maupun Steam Cutting, kemudian dipersiapkan lagi untuk pengakaran. Stek-stek dicelupkan pangkal batangnya dengan larutan hormone untuk mendorong pembentukan akar. Hormone yang telah terbukti memberikan hasil yang baik adalah Naphtalic Acid atau N.A.A.
Campuran hormone dibuat dari campuran-campuran sebagai berikut:

Steam Cutting :  0,4 gram diencerkan menjadi 60 cc dalam alcohol 95 % kemudian ditambah aquades, sehingga volume terakhir menjadi 100 cc.

Single Leaf Cutting :  Larutan hormone yang dipersiapkan untuk Steam Cutting dicernakan dengan alcohol 50% hingga kadar kekuatannya tinggal setengahnya.

Pengakaran selanjutnya dilakukan dalam bak stek. Ukuran bak stek 120 cm panjangnnya, 90 cm lebarnya dan 2,8 dalamnya. Ukuran lebih besar dari ini dipandang kurang baik karena kelembaban yang tinggi sulit untuk dipertahankan pada ukuran yang lebih besar.

Bagian bawah dari bak stek diberi lobang untuk memudahkan drainase pada waktu penyiraman. Dasarnya diisi dengan kerikil dan bagian atasnya diisi dengan medium. Antara permukaan medium dengan bagian atas dan bak stek disisakan ± 15 cm.

Medium yang dapat dipakai seperti pasir yang kasar jangan terlalu halus, serbuk kulit kelapa, serbuk gergaji yang telah dicuci, namun kekeuatanya tidak lama sekitar 6 bulanan. Untuk medium yang baik dan tahan lama bisa gunakan Vermaculite bahan ini terbuat dari mineral mika.

Temperature harus tetap dijaga jangan sampai terlalu tinggi diusahakan agar tetap sejuk, walaupun demikian cahaya harus tetap masuk, karena kekurangan cahaya akan mengakibatkan kegagalan stek sebab akan kehabisan karbohidrat.

Aturan-aturan dalam menghasilkan stek yang baik seperti di bawah ini:
  • Tempat tidak boleh lebih dari 30 °C
  • Kelembaban konstan 100% atau bisa turun sedikit misalnya 96% - 97%
  • Tidak boleh terlalu banyak air, karena bisa membusuk tetapi tidak juga kekurangan air karena  pembentukan akar akan lamban.
  • Cahaya tidak boleh langsung mengenai tutup bak stek

Sebagai ukuran keberhasilan, stek pada waktu 15 – 20 hari harus sudah berakar, dan pada sesudah 30 hari stek dapat dipindahkan pada kantong plastic, dan tanah untuk medianya sama dengan tanah semai. Setelah 6 – 10 bulan maka tanaman siap ditanam di kebun.

Cara Pengembangbiakan Secara Okulasi

System okulasi banyak di pakai di Indonesia, karena selain hasilnya lebih baik, perawatannya pun lebih mudah apabila dibandingkan dengan stek. Tanaman coklat yang sudah berumur satu tahun atau sudah memiliki diameter batang sekurang-kurangnya 1,5 cm umumnya sudah bisa diokulasi.

Sebagai onderstam digunakan zaailing yang berasal dari keturunan DR 1 dan DR 2. Kemudian batang atas atau entrijs digunakan dari klon-klon yang berproduksi tinggi yaitu DR 1, DR 2, dan DR 38, Lalu jarak tanam entrijs adalah 1,5 x 2 m. namun ada juga yang mempergunakan jarak tanam 1,8 x 1,2 meter.

Mata diambil dari cabang arthotrop yang kulitnya telah berwarna coklat, bahkan kalau sudah berwarna coklat gelap samapi abau-abu dan sudah mulai retak-retak. Mata yang kulitnya masih kecil dan berwarna kehijau-hijauan itu masih belum dapat dipakai. Lebih kurang 7 – 10 hari sebelum entrijs diambil, tangkai daunnya dipotong lebih dahulu sehingga pada saat pemotongan entrisj daun – daunnya telah gugur. Setelah kita menyediakan mata maka penempelanpun telah dapat dilakukan.

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

Kisah Sukses Peternak KELINCI HIAS


Sukses Budidaya Kelinci - Budidaya kelinci memang menggiurkan. Apalagi kelinci hias,harganya bisa 10 kali lipat harga kelinci konsumsi.Urine dan fesesnya pun bisa dijadikan fulus.

Apabila hobi anda berwisata kuliner pasti sependapat bahwa restoran dengan menu daging kelinci kian menjamur. Teksturnya yang lembut dan gurih makin digemari karena kandungan kolesterol daging kelinci jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi atau kambing sehingga lebih sehat jika di konsumsi. Sejatinya budidaya kelinci telah lama pula dilakukan orang. Sebab keuntungan beternak kelinci lumayan menggiurkan. Binatang ini sudah siap kawin ketika memasuki usia 6 bulan dan masa buntingnya relative pendek, yakni 29 – 31 hari. Sekali reproduksi kelinci beranak 4 – 12 ekor anak, artinya tidak butuh waktu lama untuk mencapai titik impas usaha.

Namun tidak hanya itu, seiring berkembangnya kelompok masyarakat penyuka binatang hias, hewan imut-imut bertubuh mungil dengan bulunya yang lembut itu telah masuk hitungan sebagai incaran para pehobi. Maka dari sisi nilai ekonomi jelas semakin menguntungkan.

Rudy Hustamin yang telah lebih dari 7 tahun menggeluti usaha ternak kelinci, khususnya kelinci hias mengatakan hal serupa, “Lebih menguntungkan kelinci hias karena bermain di dunia hobi. Kalau berhubungan dengan hobi orang tidak pernah melihat uang,berapa saja berani. Jenis New Zeland untuk konsumsi dilepas di pasaran dengan harga Rp 10.000. Sedangkan kelinci hias jenis Hotot dijual Rp 100.000, “ ujarnya.

Lebih rinci, kelinci hias mulai memiliki nilai jual setelah umur 2,5 bulan. Dalam setahun seekor indukan mengalami 3 kali masa kawin atau 3 kali bunting. Taruh kata, rata-rata sekali beranak melahirkan 5 ekor, berarti dalam setahun menghasilkan 15 anakan. Dengan harga jual Rp 75.000 – Rp 100.000, maka setahun per ekor bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp 1.500.000 dengan kelangsungan hidup mencapai umur 4 tahun. Indukan yang sudah tidak produktif tersebut masih memiliki nilai ekonomis, yakni sebagai hewan potong di resto atau warung sate kelinci.

Memang benar, untuk memenuhi selera konsumen Rudy tidak hanya mengandalkan 1 jenis kelinci local, melainkan juga mendatangkan beberapa jenis kelinci hias dari luar negeri, seperti Lop, Angora, Rex, Hotot, Dutch, Dwarf, Lion, maupun Flamish Giant. Perbedaanya, apabila kelinci local secara fisik bagian mulut dan telinganya lebih panjang , tubuhnya relatif lebih besar dengan bobotnya 2-3 kg dan biasanya terdapat pola-pola di atas bulu, kelinci jenis impor lebih variatif. Ada kelinci berjenis kuping turun, kuping kecil dan sebagainya. Kelinci jenis hotot yang paling besar bobot tubuhnya hanya 1,5 kg. Tetapi terdapat pula kelinci impor yakni Flamish Giant, per ekornya bisa mencapai 10 kg.

Untuk segi pemeliharaan, secara umum antara kelinci hias dengan kelinci local yang sebagian besar hanya untuk keperluan konsumsi, tidak berbeda jauh. “ Tetapi karena asalnya dari luar negeri maka perlu sedikit adaptasi. Kelinci hias lebih gampang mati , kelinci local tidak,” Rudy menjelaskan. Yang paling pokok, setiap hari kebersihan kandang harus dijaga. Sebab kalau tidak , binatang-binatang ini rentan penyakit, terutama diare, scabies ( gudig/korengen ) dan radang paru-paru.

Sementara itu mengenai biaya operasional khususnya pakan kelinci hias, peternak tidak boleh hanya bergantung pada rumput atau kangkung saja melainkan harus disertai makanan tambahan. Tapi jangan khawatir, dalam hitungan akhir jatuhnya biaya malah lebih murah, Rudy mengaku biasa memberikan pellet buatan dari bahan dedak, bungkil kedelai dan ampas kelapa. Dalam sebulan ia bahkan memproduksi sendiri tidak kurang dari 20 ton pellet untuk dipasarkan dengan berbagai nama merk.” Kita punya induk sekitar 1.300 ekorhanya membutuhkan sekitar 6 karung rumput setiap hari, ditambah pakan konsentrat 70 kg. Efisien sekali, kalau hanya pakai rumput sehari harus 1 truk,” akunya.

Di Bandung Jawa Barat, Rudy telah memiliki kandang berbaterai berisi sekitar 1.300-2.000 indukan, dan mempekerjakan kurang lebih 50 orang . Setiap minggunya ia biasa mengirim kelinci hias ke seluruh pet shop di Jakarta dan sekitarnya sebanyak 600-700 ekor. Namun bukan hanya kelinci hias atau penjualan pellet saja, Rudy bertutur terdapat beberapa penghasilan tambahan lain pula. Pasalnya baik urine ( air kencing ) atau feses ( kotoran ) kelinci memiliki nilai jual tinggi. Urine yang di tamping lalu dikemas dalam botol dan diberi label, dijual sebagai pupuk organic Rp 10.000 / liter. Dalam sebulan paling tidak ia bisa mengumpulkan 1.500 botol. Sementara itu feses dicampur dengan abu sekam sisa bahan bakar pabrik tahu miliknya, di Jakarta laku Rp 6.000 / sak sebagai pupuk tanaman.” Setiap minggu kita bisa kirim sekitar 800 karung. Lebih gede sampingannya,”imbuhnya sambil tersenyum.

Menurutnya, beberapa waktu terakhir prospek cerah kelinci hias semakin bertambah setelah merebak kasus flu burung. Sedikit demi sedikit binatang unggas mulai ditinggalkan, kemudian orang ganti melirik kelinci. Maka sebagai antisipasi akan permintaan pasokan yang terus meningkat ia mengembangkan plasma di daerah Ciwidey dan menyiapkan sebuah lokasi berkapasitas lebih besar di Cipanas. Ke depan akan ramai sampai ke luar kota. Kita sudah masuk sampai ke Samarinda dan Papua,” ujar pengusaha yang kini sudah merambah budidaya hamster, sapi perah, pabrik tahu, hingga jual-beli perusahaaan tersebut.

Bisnis penangkaran hamster pria kelahiran Jambi 1972 ini pun boleh dibilang berhasil. Tiap minggu Rudy dapat menjual 2.000 – 3.000 ekor binatang pengerat mirip tikus tersebut ke seluruh Jabodetabek, ditambah ekspor sebulan sekali sebanyak 3.000 ekor ke Arab Saudi. Bersamaan itu juga ia mengirim kelinci hias sekitar 300 – 400 ekor tiap 1 atau 2 bulan sekali.

Menyinggung pengembangan budidaya kelinci hias dengan sistem plasma, Rudy berujar, jikalau hal itu relatif lebih mudah dijalankan, dikarenakan beternak kelinci lebih bagus apabila tidak dipelihara dalam satu kelompok berjumlah besar. Alasan utama pengelolaan akan lebih mudah dilakukan, seperti merawat kebersihan kandang dan mengawinkan indukan setiap hari.

“Saya punya planning di masa depan akan mengajak kerjasama pemerintah, kalau nanti saya sudah siap, saya akan menyiapkan bibit yang bagus sekitar 5.000 ekor untuk proyek masyarakat di daerah tertinggal. Kelinci itu berkembang biaknya cepat, sehingga minimal membantu penyediaan protein hewani,” katanya seraya mengaku. Pada awalnya ia pun hanya berfikir untuk berbisnis kelinci potong, bukan untuk binatang hias.”Karena di Jakarta ternyata lebih respek untuk hias,” imbuhnya beralasan.

Sejarahnya, selepas terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998, mantan karyawan di perusahaan IT tersebut mulai mencari kesempatan membuka usaha sendiri. Setelah sekian waktu menimbang-nimbang, tahun 2000 ia tertarik pada budidaya kelinci yang menurutnya waktu itu belum banyak pesaing. Saat itu dia mempercayakan modal Rp 12 juta kepada salah seorang kenalan untuk mengelola usaha tersebut di Cianjur, Jawa Barat. Tetapi saying tidak berjalan mulus, hanya berjalan 3 bulan akhirnya berantakan.

Tidak patah semangat, tahun 2001 ia mulai usaha kelinci hias tersebut di daerah Bandung dan tidak lagi mengandalkan orang lain, melainkan ditangani sendiri. Rudy juga gigih dalam hal pemasaran, seminggu sekali atau tiap ada kesempatan ia sambangi pet shop di Jakarta satu per satu, sehingga akhirnya membuahkan hasil. Meskipun pada awalnya banyak yang kurang yakin kelinci bisa hidup dengan hanya diberi pellet, namun setelah terbukti, seterusnya pemasaran pun berjalan lancar. Bahkan khusus untuk pakan, dalam sebulan ia bisa menjual sampai 20 ton dengan harga Rp 4.000- Rp 6.000 / kg.

“Saya mulai benar-benar dari nol.Dari semula berupa kandang kayu, sekarang sudah punya kandang kawat. Syukurlah, sekarang kita juga akan segera memperluas usaha di Cipanas, lahan sudah disediakan . Rencananya berkapasitas muat 5000 ekor indukan,” tuturnya. Omsetnya,sebulan jelas mencapai ratusan juta. Kurang percaya ? Silahkan dibuktikan sendiri !

(Sumber : Majalah Pengusaha Bulan Mei 2008)

Penyakit Pada Cucak Rowo Dan Cara Pengobatannya

PENYAKIT DAN CARA PENGOBATAN Burung Cucak Rawa :

1. Bulu Rontok
Seperti pada jenis unggas lain, setiap satu tahun sekali, Cucak Rawa akan mengalami pergantian bulu dan biasanya terjadi sesudah musim kawin. Di dalam kandang penangkaran, perkawinan diupayakan lebih dari satu kali dalam setahunnya. Dalam keadaan seperti ini biasanya bulu-bulu burung akan lepas dengan sendirinya, tetapi kemudian akan tumbuh bulu baru sebagai penggantinya. Pergantian bulu ini tidak perlu dicegah, karena merupakan proses alami yang harus terjadi dan untuk perbaikan masa yang akan datang. Biasanya semakin bertambah usia, bulu burung akan tampak semakin indah dan sempurna.

Kerontokan bulu juga dapat terjadi karena dicabuti oleh burung lain atau oleh burung itu sendiri. Bila hal ini terjadi, pertama-tama harus dicari penyebabnya, apakah karena kutu, caplak atau sejenis jamur yang mengganggunya. Bila penyebabnya adalah kutu, caplak atau sejenis jamur, berikan semprotan obat pembasminya yang berkadar rendah langsung pada bulunya dengan menggunakan sprayer. Lakukan dengan hati-hati, karena semprotan ini dapat menyebabkan burung ini mabuk.

Selain karena kutu-kutu tersebut, sering terjadi burung-burung mencabuti bulunya sendiri atau bulu temannya. Untuk mencegah hal ini terjadi, berikan obat anti kanibal yang dicampurkan ke dalam pakan atau air minumnya.

2. Induk Cucak Rawa Membuang Anak Atau Telurnya

1. Induk burung Cucak Rawa tidak merasa nyaman dengan lingkungan dan merasa terancam. Hal itu bisa disebabkan Cucak Rawa memang tergolong burung yang sensitive, umumnya kandang burung Cucak Rawa dibuat dari tembok yang tertutup. Suara bising, gaduh serta bau yang menyengat merupakan salah satu faktor yang membuat burung cucak rawa tidak merasa nyaman. Ganguan binatang baik tikus,kucing maupun A*J*N* juga merupakan faktor yang dapat membuat burung Cucak Rawa merasa terancam. Pemecahan masalah ini yaitu meminimalkan ganguan lingkungan tersebut. Jauhkan kandang dari keramain orang maupun kendaraan bemotor dan juga jauhkan kandang dari ancaman binatang peliharaan maupun binatang liar .

2. Induk burung Cucak Rawa tidak merasa nyaman sehingga membuang serabut dan menata kembali bahan pembuat sarang. Dalam proses membuang dan menata kembali serabut tadi telur ikut jatuh. Pemecahan masalah ini yaitu dengan membuat sarang lebih dari satu sehingga induk Cucak Rawa bisa memilih sendiri posisi dan kenyamanan sarang yang kita buat. Dan juga beri tambahan serabut halus untuk ditambahkan sendiri oleh induk Cucak Rawa agar induk merasa nyaman.

3. Induk burung Cucak Rawa birahi lagi. Hal itu dapat terjadi bila pemberian extra fooding yang berlebihan. Ukuran yang normal untuk induk yang sedang produksi perkandang yaitu 40 ekor jangkrik maksimal, sedangkan bila sudah mengeram maksimal 10 ekor dan bila telur menetas maximal 60 ekor. Hal tersebut banyak diamini oleh para penangkar burung cucakrawa.

4. Induk yang memang nakal. bila itu terjadi jual aja induknya atau cari babuan buat mengerami. bisa babuan kutilang atau trucukan. kutilang lebih cocok dibuat babuan, karena sifatnya yang telaten dan cepat beradaptasi dengan lingkungan

3. Berak Darah
Burung tampak lesu, bulu kusut, sayap ke bawah, mata tertutup, mencret, tinjanya encer, dan bila telah parah sering berwarna kemerahan karena darah, tidak mau bertengger dan akan duduk di lantai sangkar. Bila ini terjadi, maka Jauhkan burung sehat dari burung yang sakit, agar tidak tertular melalui kotoran, dan bersihkan sangkar dari kotoran yang menumpuk dan sisa pakan yang basi. Jaga kesehatan burung agar jangan sampai terganggu pencernaannya, karena penyakit ini menyerang usus higga menyebabkan peradangan, luka dan mengeluarkan darah.

Pengobatan:
Bila menghadapi keadaan seperti ini segera pisahkan burung ini dan masukkan ke dalam sangkar karantina. Kurangi porsi makannya agar ada kesempatan untuk menyembuhkan usus yang terluka, dan berikan makan yang halus. Berikan minum Coxilin atau Sulfaquinoxilin dan tambahkan vitamin ke dalamnya. Dapat juga dengan memberikan kapsul Terafit, yang harus dimasukkan ke dalam mulutnya.

4. Berak Kapur
Seperti pada gejala berak darah, ditambah dengan gerakan berjingkat-jingkat sewaktu buang kotoran. Ada tiga kemungkinan pada gangguan pencernaan ini, mungkin berak darah, berak kapur atau susah buang kotoran. Bila ini terjadi, Hindarkan pakan yang dapat mengganggu dan merusak pencernaan, karena burung ini memang memiliki system pencernaan yang kurang baik. Jagalah kebersihan kandang, berikan cukup air minum dan sekali waktu berikan papaya untuk melancarkan pencenaan. Hindarkan makanan yang dapat merusak pencernaan burung, misalnya kaki serangga, sayap serangga atau biji buah yang keras misalnya biji buah jambu batu atau pisang batu.

Pengobatan:
Bila burung terkena penyakit berak darah atau berak kapur, lakukan seperti yang diuraikan di atas. Tetapi bila burung mengalami susah berak, biasanya ada kotoran yang tertahan sampai beberapa hari, dan burung akan nampak menderita karena sakit.
Masukkan air sabun ke dalam duburnya melalui spuit (alat suntik) yang sudah diambil jarumnya. Air sabun akan memudahkan dan melancarkan saat burung akan buang kotoran atau berak. Berikan makan papaya agar membantu pencernaan serta taburkan batuan kecil dan kerikil batu apung.

5. Radang Mata
Mata membengkak dan mengandung air, mungkin dapat menyebabkan matanya melekat sehingga sukar dibuka. Sehingga kurang bergairah dan tampak bingung bila didekati. Bila ini terjadi, Usahakan agar tidak banyak angin yang masuk ke dalam kandang. Asap yang masuk ke dalam kandang juga dapat menjadi penyebab, atau masuknya benda asing ke mata, seperti pasir, serbuk atau debu.

Pengobatan:
Periksalah keadaan mata, bila bengkak atau infeksi berikan salep mata. Tetapi bila tidak, cukup cuci dengan obat pencuci mata atau obat tetes mata. Usahakan agar burung tidak mendapatkan banyak sinar matahari yang menyilaukan atau adanya pantulan benda seperti kaca, seng yang baru, warna putih tembok atau warna lain yang merangsang. Warna benda dan cat sekeliling kandang penangkaran akan berpengaruh terhadap kesejukan dan kenyamanan, sehingga membuat kerasan bagi penghuninya.

6. Sisik pada kaki
pada semua burung, kaki yang bersisik adalah proses yang wajar. akan tetapi, keadaan ini seringkali diartikan sebagai tanda bahwa burung tersebut sudah tua atau terkadang malahan dianggap sebagai biang kekurang menarikan burung tersebut. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar.

a. penyebab
sisik pada kaki Cucak Rawa umumnya kan timbul setelah usianya tua. Namun, bila baru dipelihara 3-4 tahun ada beberapa kemungkinan yang menyebabkannya.
1) burung terlalu liar dan banyak bergerak
2) sangkar yang digunakan kurang memadai
3) jarang dimandikan atau memandikannya kurang baik
4) ada gangguan berupa parasit sebagai akibat kebersihan yang kurang terjaga.

Dari beberapa kemungkinan tsb diatas, faktor ke 1 dan 4 adalah faktor yang paling umum kita jumpai.

b. pencegahan dan pengobatan
timbulnya sisik ini tidak dapat dicegah, tapi hanya diminimalisir atau diperlambat melalui cara-cara :
1) tidak memaksanya untuk cepat jinak
2) burung dewasa yang liar letakkanlah ditempat yang agak tinggi.
3) Pergunakan sangkar yang lumayan besar
4) Sering dimandikan dengan cara yang baik
5) Sesering mungkin menjemurnya
6) Selalu menjaga kebersihan sangkarnya
7) Mengoleskan hand body tiap kwartal

Pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan sisik tidak hanya cukupsekali maupun dua kali. Pengobatan yang baik dilakukan secara kontinyu/berulang-ulang.

Hambatan pengobatan ini terjadi pada saat menangkapnya *terutama bagi yang belum jinak tentunya* efek dari ditangkap itu sendiri adalah burung dapat menjadi takut, enggan berkicau serta bulunya dapat rusak.
Untuk memudahkan penangkapan adalah saat burung usai mandi

Cara Membedakan Burung Cucak Rowo

Cucak Rawa termasuk burung monomorfik di mana tidak ada perbedaan ciri fisik yang terlihat dari luar yang membedakan antara burung jantan dan burung betina. Namun demikian, ada beberapa patokan yang bisa digunakan untuk menentukan jenis kelamin burung Cucak Rawa oleh para penangkar.

Dari Ciri fisik

Jantan
Kepala bulat, dengan bulu berwarna lebih tua, tampak ada semacam belahan bulu. Bulu rahang lebih putih dan tampak bersih cerah. Bulupunggung dan sayap lebih abu-abu, garis-garis hitam putih lebih nyata. Ekor lebih panjang dan menyatu paruh tampak lebih kokoh kuat dan tebal serta agak melengkung. Garis hitam di bawah mata tampak lebih jelas.

Betina
Kepala lebih datar, dengan bulu berwarna lebih ringan, dan tidak ada belahan bulu. Bulu rahang lebih kotor, tampak putih keabu-abuan. Garis-garis hitam putih kurang jelas. Ekor lebih pendek dan sedikit agak mengembang. Paruh lebih pipih dan cenderung tampak lebih cantik. Garis hitam di bawah mata dengan warna lebih ringan.

Dari Tingkah Laku dan Gerakan
Dari tingkah laku dan gerakannya, burung Cucak Rawa dapat diketahui sekaligus dibedakan antara jantan dan betinanya. Terutama bila Cucak Rawa telah jinak dan gerakannya telah menunjukkan kebebasan tanpa ada rasa takut.

Jantan
Gerakannya lebih agresif, sering melompat, seakan-akan menantang dan terlihat berani. Bila melihat lawan jenisnya seakan-akan merayu dan melakukan gerakan atraktif, sedang bila dengan jenis yang sama, seakan-akan ingin menyerang. Banyak gerakan kaki dan tubuh yang seakan-akan hendak mengangkat ke atas dan ekornya mengarah ke bawah. Kepala menunjukkan gerakan melongok ke atas dengan gerakan yang nampak berani dan menantang disertai dengan siulan keras bernada memanggil.

Betina
Gerakan lebih lamban dan tampak halus. Bila melihat lawan jenisnya akan menggerak-gerakkan sayap yang sedikit agak dikembangkan paruh terbuka dan lidah digerak-gerakkan seperti anak Cucak Rawa yang minta disuapi induknya. Sambil mendekat menyuarakan suara yang lembut, sambil merendahkan badan serta ekornya agak terangkat keatas. kepala sering merunduk atau merendah ke depan merendah sejajar dengan punggungnya.

Dari Suara
Dari suaranya, burung Cucak Rawa dapat dibedakan jenis kelaminnya, walaupun untuk itu perlu dibutuhkan waktu yang relatif lama.

Jantan
Lebih sering menyampaikan nada panggil tinggi, keras dan melengking. Banyak variasi nada dan irama yang sering diperdengarkan. Bila berkicau bersama atau berpasangan akan memimpin irama lagunya. Secara garis besar suaranya *Klang Kling Klung* saja

Betina
Suara terdengar besar dan dalam, seakan akan memberi jawaban kicauan burung jantan. Variasi suara lebih monoton dan seolah olah hanya mengikuti saja. Perbandingan ini akan nampak jelas lagi bila dua burung, jantan dan betina, sedang berkicau bersahut-sahutan saling didekatkan. Namun ada juga burung betina yang dapat bersuara doble atau ropel, sehingga dalam ini sulit untuk memilih atau menentukan antara jantan dan betina. Secara garis besar suaranya *Klang Kling Klung* diakhiri dengan *Kliuk*

Walaupun secara tampilan, Cucak Rawa tidaklah semenarik burung beo, burung kepodang, burung murai, kacer ataupun burung jenis lain yang memiliki warna yang indah. Bahkan dibandingkan dengan satu kerabatnya yakni burung kutilang, warna Cucak Rawa belumlah sebanding keindahannya. Akan tetapi, walaupun sosoknya kurang menarik, Cucakrawa memiliki suara yang cukup tinggi nilai ekonomisnya, harganya terus naik demikian halnya dengan kharismanya sebagai kicauan unggulan tidak diragukan lagi.

Tingginya harga Cucakrawa bakalan, maupun yang sudah jadi menjadi pertimbangan tersendiri bagi para penggemar kicauan, terutama bagi penggemar pemula untuk memilikinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa Cucakrawa memiliki kelas tersendiri dan seakan terkesan sebagai burung kelas atas. Terlebih sampai dengan saat ini para penggemarnya hampir sebagian besarnya didominasi oleh kalangan pengusaha maupun para penggemar yang penghasilannya cukup baik. Citra Cucak Rawa yang baik inilah yang membuat burung ini sulit didapati di alam bebas, bahkan di pasaran sekalipun.

Namun bila diamati tidak demikian halnya adanya. Cucak Rawa walaupun memiliki harga yang relatif tinggi ternyata murah untuk dipelihara bila dibandingkan dengan memelihara burung berkicau jenis yang lainnya. Makanan kesehariannya adalah pisang/buah-buahan dan diselingi dengan voor. Makanan tambahannya bisa berupa jangkrik 5 ekor pagi 5 ekor sore, dan kroto (tidak wajib). Porsi EF tersebut tidaklah sebanyak yang kita butuhkan manakala memelihara jenis burung yang lainnya.

Bisa dikatakan, memelihara Cucak Rawa sesimple memelihara trucukan atau kutilang hanya karena faktor mahalnya harga bakalan burung ini, maka kita tidak mau bereksperimen. Andaikata mau bereksperimenpun dengan cara yang sangat hati-hati.

Kalau diistilahkan, membeli burung Cucak Rawa seperti membeli motor 4 tak. Harga di awal saja yang tinggi, setelah itu dalam kesehariannya irit bensin, tanpa perlu membeli olie samping sebagai pelengkap EF hariannya seperti halnya bilamana kita membeli motor 2 tak.

Termasuk suatu hal yang kurang tepat pula bila menyebut bahwa Cucak Rawa adalah burung termahal. Sebab tidak sedikit pula burung jenis yang lainnya yang bandrolnya memasuki 7 digit, bahkan bisa 8 digit bilamana berprestasi.

Sedikit kesimpulan yang bisa kita tarik adalah
CUCAK RAWA harga awalnya saja yang tinggi, namun untuk perawatannya bisa dibilang murah meriah.

Jenis-Jenis Cucak Rowo Berdasarkan Daerah Asal/penyebarannya

Suara kicauan Cucak Rawa yang berkualitas memiliki beberapa kriteria, salah satu syarat tersebut terletak pada kemurnian suaranya. Ibarat benda seni, keorisinilannyalah yang memiliki nilai jual yang tinggi. Hal yang perlu diperhatikan, Cucak Rawa memiliki kemampuan untuk menirukan suara-suara tertentu, termasuk kicauan burung yang lainnya. Oleh karenanya, jangan memelihara burung yang suaranya bisa ditirukan oleh Cucak Rawa.

Perawatan Cucak Rawa yang baik dapat memperpanjang usianya namun seiring usia Cucak Rawa yang bertambah (diatas 10 tahun) maka secara berangsur-angsur pula daya tahan tubuh serta kicauannya akan menurun kualitasnya. Namun jangan kuatir, hal tersebut diatas dapat dihambat dengan pemberian makanan yang variatif serta perawatan yang baik.

Selama ini, Cucak Rawa yang berasal dari medan lebih populer dibandingkan dengan Cucak Rawa yang berasal dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena sejak dahulu Cucak Rawa asal medan ini yang selalu membanjiri pasaran.dalam banyak hal, Cucak Rawa asal medan dapat dikatakan lebih baik, namun kecepatan suaranya masih kalah bila dibanding dengan Cucak Rawa asal daerah lain, terutama yang berasal dari lampung dan sumatera selatan. Hal ini masih belum begitu dipahami oleh kebanyakan para penggemar Cucak Rawa.

Bila ditinjau dari segi alam, maka, Iklim, kesuburan tanah, ketinggian dari permukaan laut serta vegetasi di negara kita sangat beraneka ragam. Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat menyebabkan perbedaan ukuran fisik, warna bulu maupun kualitas suara Cucak Rawa. demikian halnya, selain karakter bawaan dari burung, pola perawatan turut berperan dalam menentukan kulitas Cucak Rawa Ini Kelak. Ada satu catatan, makanan alami yang tiap hari dikonsumsi oleh Cucak Rawa dapat berefek pula terhadap kualitas suaranya.

Mengukur kualitas suara kicauan bukanlah suatu perkara mudah, karena ukuran/kriterianya akan berbeda pada tiaporang/kembali ke selera masing-masing. Sebagai salah satu contoh, murai batu asal medan lebih mengandalkan volume dan variasi dalam berkicau. Sedangkan Murai Batu Asal Lampung Lebih Mengandalkan speed atau kecepatan serta gayanya yang atraktif. Demikian halnya pula dengan Cucak Rawa, ada yang bagus di volume, variasi, speed/kecepatannya dll.

Berikut jenis-Jenis Cucak Rawa Berdasarkan Daerah Asalnya :

1. Cucak Rawa Medan
Ketenaran Cucakrawa daerah ini tidak hanya dari suaranya, tetpi dari ukuran tubuhnya pula. Daerah ini memiliki Hutan berawa-rawa yang luas dan tidak terlalu jauh dari pantai sehingga udaranya lumayan panas. Jadi pohon yang tumbuh disekitar tempat ini tidaklah terlalu tinggi.

a. Ciri-ciri
ukuran tubuhnya besar sehingga bila dipegang terasa padat dan agak keras. Walaupun baru ditangkap dari alam bebas, warna bulunya cenderung seperti burung yang telah lama dipelihara, yaitu hijau keabu-abuan sedikit kecoklatan dan tampak bersih.

b. kualitas suara
rata-rata memiliki suara kicauan yang baik, bervariasi serta mepunyai volume suara tang cukup besar. Namun kelemahannya adalah kurang didukung lengkingan suara atau jeritan, sehinga suaranya terkesan berat namun kurang tebal. Bila diamati, kicauannya cenderung nggambang/mengambang. Selain itu, kicauannya kurang bisa dibawakan secara cepat.

2. Cucak Rawa Aceh
Cucak Rawa asal aceh ini banyak dikenal sebagai Cucak Rawa asal medan. Tetapi, para penggemar yang senior dapat mebedakan antara Cucak Rawa Medan dengan Cucak Rawa Aceh.

a. Ciri-Ciri
Cucak Rawa asal daerah ini, ukuran tubuhnya sebesar Cucak Rawa medan namun perbedaannya terletak pada bulunya, yakni warna hijaunya lebih menonjol dari asal medan.

b. kualitas suara
kualitas suaranya tidak jauh berbeda dengan Cucak Rawa asal medan. Hal ini disebabkan karena daerah langkat dan aceh hanya dipisahkan oleh sungai Besitang.

3. Cucak Rawa lampung
Kondisi alam daerah lampung umumnya berbukit dengan hutan-hutannya yang tergolong berpohon tinggi. Hutannya pun tergolong hutan terbuka dalam bentangan yang luas. Walaupun termasuk dtaran tinggi, daerah ini tergolong berudara cukup panas.

a. ciri-ciri
Cucak Rawa asal lampung ini memiliki warna bulu yang hampir tidak jauh berbeda dengan daerah medan. Tetapi ukuran badannya sedikit berbeda. Cucak Rawa asal lampung memiliki badan yang agak pendek walaupun besar badannya hampir sama dengan Cucak Rawa medan. Namun demikian, Cucak Rawa asal daerah ini memiliki fisik yang kekar, berdada bidang serta tulang sayap yang lebih kokoh bila dibandingkan dengan Cucak Rawa Medan. Hal ini lebih disebabkan oleh faktor alam/lingkungan sekitarnya.

b. kualitas suara
suara nya tidak sekeras asal medan, namun kicauannya lebih tajam dengan sedikit variasi yang lebih sedikit dibanding asal medan. namun Cucak Rawa dari daerah ini mampu membawakan nyanyiannya dalam speed yang baik dan cepat.

4. Cucak Rawa Sumsel, Jambi dan Riau daratan
Daerah ini tergolong berhutan lebat dan berawa-rawa luas.

a. ciri-ciri
hampir sama seperti asal lampung, namun perbedaannya terletak pada bagian dadanya yang kurang bidang.

b. kualitas suara
hampir sama dengan lampung hanya saja dengan volume lebih kecil sedikit bila dibandingkan lampung.

5. Cucak Rawa Kalimantan
Pada saat ini, yang banyak membanjiri pasaran adalah Cucak Rawa yang berasal dari daerah ini.

a. ciri-ciri
warnanya kurang hijau bila dibandingkan Cucak Rawa asal sumatera demikian pula ukuran badannya. Ukurab badannya tidaklah sebesar Cucak Rawa Sumatera.

b. Kualitas Suara
Cucak Rawa asal kalimantan ini tidaklah sebaik Cucak Rawa asal Sumatera. Kebanyakan tempo kicauannya sedikit lambat serta kurang keras dan kurang tebal. Kebanyakan, para penggemar Cucak Rawa menyatakan bahwa Cucak Rawa kalimantan ini bersuara tipis dan kurang tajam.

Jenis Jenis Kandang Yang Dianjurkan Untuk Kambing


Berdasarkan jumlah kambing yang diternakan, kandang dibagi dua jenis. yaitu kandang individu dan kandang koloni. kandang individu biasa digunakan untuk induk kambing yang sedang bunting, laktasi atau pejantan. Sementara itu, kandang koloni biasa digunakan untuk pembesaran.

Sedangkan dari jenis konstruksi, kandang kambing dibedakan menjadi kandang lemprak dan kandang panggung. Berikut penjelasan kedua tipe kandang tersebut.

1. Kandang Lemprak

Kandang lemprak dicirikan dengan lantai yang menggunakan tanah sebagai alas. Lantai sebaiknya dibuat dari semen dengan corak kasar agar lantai tidak licin dan mudah dibersihkan. Lantai juga dibuat sedikit miring ke satu arah untuk mencegah adanya genangan air setelah kandang dibersihkan.

2. Kandang Panggung

Kandang panggung dicirikan dengan adanya tiang penyangga, sehingga lantai berada di atas tanah, dan berjarak 0,5 – 1 M dari atas permukaan tanah. Lantai kandang panggung biasanya dibuat dari papan atau potongan bambu dan memiliki tiang penyangga. Konstruksi kandang panggung lebih disukai dan lebih disarankan untuk digunakan dibandingkan dengan kandang lemprak, walaupun biaya pembuatannya lebih mahal.

Untuk menghindari kaki kambing terperosok, diusahakan lubang antar papan atau potongan bambu tidak lebih besar daripada kaki kambing. Lubang tersebut juga berfungsi untuk mengeluarkan kotoran sehingga kandang senantiasa dalam keadaan bersih.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, kambing, dan Sapi Potong